Pages

Minggu, 12 Juni 2011

Kini kuputuskan untuk berhijab

"Kenapa lu ga berjilbab sih?" salah satu temanku pernah bertanya."Belum siap" itulah jawaban yang selalu kulontarkan jika ada yang menyinggung soal jilbab atau hijab atau apapun itu.
"Ntar aja ah, kalo gw uda nikah, kan sekarang masih pengen modis dan seneng-seneng dulu" batinku dalam hati. Aku tergolong sering mengikuti kajian-kajian yang diadakan di masjid-masjid atau lembaga-lembaga agama. Dan juga aku termasuk orang yang senang membaca buku. Tak terkecuali buku-buku agama. Awalnya aku menganggap berhijab adalah suatu budaya bangsa Arab yang tidak wajib untuk dilaksanakan. Berjilbab hanyalah proses akulturasi yang dianut oleh pihak-pihak yang mengikuti kelompok atau aliran agama tertentu. Lagipula, sering sekali aku melihat para wanita yang sudah berhijab namun tetap saja seenaknya melanggar norma-norma agama di depan umum. Pikirku daripada aku berhijab dan malah mempermalukan agamaku seperti mereka lebih baik aku memperbaiki diriku saja dulu.

Namun, seiring aku belajar dari berbagai referensi, aku mengetahui bahwa berhijab bukanlah suatu budaya, Itu adalah perintah dan syariah Allah SWT. Perintah ini tertera di surah.

Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (Q.S An-Nur 31)

.Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Q.S Al Ahzab 59)


Perang pemikiran terjadi dala
m diriku sendiri, aku bingung. Di satu sisi aku belum merasa siap memakai hijab dan di sisi lain, sebagai muslim aku harus mematuhi perintah Allah baik suka tidak suka, siap maupun tidak.

Pernah pada suatu pertemuan unit keagamaan islam yang kuikuti, GAMAIS-ITB (Keluarga Mahasiswa Islam-ITB), aku disarankan temanku untuk memakai hijab dengan alasan di kegiatan kali ini,aku akan terlalu mencolok jika tak memakai hijab. Entah mengapa aku menurutinya. Padahal pada pertemuan yang sebelumnya, aku pede-pede saja tanpa hijab walaupun hanya aku saja yang tidak memakai hijab di antara mereka. Aku berangkat ke pertemuan itu dan benar saja aku disambut oleh senior-senior di sana dengan ramah sekali. Mereka saling menyelamatiku, "Selamat ya sudah berhijab." Aku yang merasa tidak enak dengan mereka tak menyahut apapun. Aku tidak enak mengatakan bahwa aku mengenakan hijab hanya pada pertemuan unit ini saja. Setelah istirahat makan siang,tiba2 mereka menghampiriku dan memberikan sebuah kado kecil untukku. Aku terkejut dan hanya bisa mengatakan terima kasih. Setelah pertemuan usai, aku membuka kado itu dan ternyata isinya, Hijab. Aku galau. Bingung, bagaimana jika nanti di kampus mereka taubahwa aku belum berhijab, aku akan merasa malu. Aku menelepon ayahku untuk meminta pendapatnya, dan ia menyarankan aku untuk mengenakan jilbab seterusnya. Aku menolak dengan berbagai alasan. Dan ayahku hanya berkata, "Insya Allah,kalo kamu pake jilbab kamu akan lebih anggun dan dihormati". Malam harinya setelah sholat isya,aku berdoa,

Ya Allah, bukakanlah hatiku untuk berhijab dan menjalankan syariahMu pada waktunya,

Esoknya aku berangkat ke kampus tidak berhijab. Aku berusaha menghindari kajian-kajian dan pertemuan unit itu juga teman-teman muslimah di unit itu. Aku malu pada mereka. Hingga beberapa minggu kemudian aku aktif lagi di unit itu. Tetapi aku masih belum juga mengenakan hijab. Hingga pada akhirnya, 2 bulan yang lalu aku mengalami mimpi yang sangat aneh dan terjadi selama 4 hari berturut2.

HARI 1 : Aku bermimpi sedang berada di Masjid Salman di kampus dan baru saja melaksanakan sholat dhuhur. Setelah berdzikir aku melipat mukenah yang kupakai dan duduk sejenak. Mataku menangkap beberapa ukhti yang duduk melingkar, berjilbab panjang berwarna merah, hitam dan hijau (warna itu saja yang kuingat). Dalam hati aku bertanya," Kapan ya aku bisa memakai hijab seperti mereka?". Lalu, aku juga melihat sesosok pria berbaju putih dan sarung kotak2 abu yang sedang takbiratul ihram di dekat mimbar. Ketika aku memasukkan mukenaku ke dalam tas aku melihat jilbab kuning yang ku punya terlipat rapi di dalamnya.

HARI 2: Aku bermimpi hal yang sama. Aku sedang melipat mukena dan melihat para ukhti itu juga dan bertanya dalam hatiku kapan aku berhijab. Namun bedanya pria berbaju putih yang takbiratul ihram itu tidak ada dan ternyata dia berpindah ke belakangku. Mukanya ramah, kulitnya putih, rambutnya sebagian besar sudah beruban, dan ia memelihara jenggot di dagunya. Ia tertawa kecil dan membuatku terkejut.
Ia bertanya, "kenapa mbak? pengen berhijab?"
Dengan setengah terkejut,aku bertanya balik, "Lho, bapak siapa? "
Pria itu tak menjawab pertanyaanku dan bertanya lagi, "Kenapa ga dicoba saja?" sambil terus tersenyum.
Seperti biasa aku lontarkan jawaban andalanku, "Belum siap pak, saya masih belum bener" . Lalu aku memasukkan mukenaku ke dalam tas dan kembali melihat jilbab kuning itu lagi. Kemudian, aku pergi meninggalkannya. Namun dia masih mengatakan sesuatu padaku ketika aku beranjak pergi, "Saya rasa tidak ada yang belum siap mbak. Semua sudah siap. Tinggal si mbak saja."

HARI 3: Semuanya sama dengan hari2 sebelumnya, dan bapak itu juga ada di belakangku mengejutkan aku lagi.

"Gimana mbak? uda siap?" tanyanya lagi. Masih dengan tawa kecil nya itu.

"Bapak kok muncul di mimpi saya terus sih?" anehnya aku sadar bahwa aku sedang bermimpi.

"Kalo ga siap terus, nanti keburu ga sempet loh mbak." kali ini tawanya hilang. Dan mukanya serius.
Aku yang makin ketakutan, langsung saja pergi tanpa mengucapkan kata apapun lagi. Dan mimpi itu berakhir lagi.

HARI 4: Aku bermimpi keluar dari masjid Salman dan mendapati aku tengah berlari menuju ke suatu tempat. Akhirnya aku sampai di sebuah rumah berpagar bambu dan memiliki taman kecil yang dipenuhi pepohonan. Seperti ada yang berbisik padaku, bahwa rumah itu milik ayahku. Aku melangkah menuju teras rumah itu, berniat untuk masuk. Tanpa sengaja aku melihat diriku sendiri di kaca jendela teras rumah itu. Dan aku terkejut, aku melihat diriku sudah menggunakan jilbab berwarna kuning. Lalu aku terbangun.


Mimpi aneh itu mempengaruhi pikiran dan konsentrasi ku berhari2 setelahnya. Aku menangis dan bingung. Itu petunjuk ataukah bunga tidur belaka. Aku menceritakan hal ini pada seorang temanku. Namun tak ada komentar, mungkin temanku itu takut melukaiku karena memang aku sangat sensitif jika ada yang menyinggung soal hijab apalagi menyuruhku berhijab.

Sebulan setelah mimpi itu, ketika aku sedang berada di kos temanku, Frysta Aku mendapatkan order untuk mengajar privat di masjid Salman. Namun, aku disyaratkan utk memakai jilbab. Akhirnya dengan meminjam jilbab Frysta aku mengajar di sana. Usai mengajar, aku kembali ke kos Frysta karena aku telah berjanji untuk menginap di sana pada malam itu. Dalam perjalanan ke kos Frysta, aku menjadi teringat akan mimpi2 yang kualami itu. Aku berpikir, benar juga apa kata bapak itu. Jika aku menunda-nunda untuk berhijab aku takut tidak akan sempat. Karena tak ada yang tau sampai kapankah aku hidup di dunia ini.

Aku menjadi ingin berhijab, namun masih saja ada keraguan yang tak dapat kuhilangkan. Tak bisa tampil modis, trendy dan lain-lain. Sesampainya di kos Frysta, aku mengutarakan niatku kepada Frysta. Frysta senang bukan main dan dia mendukungku untuk melaksanakan niatku itu. Aku menceritakan mimpi itu juga ketakutan dan kekhawatiranku jika aku memakai jilbab, namun dia menjelaskan padaku dengan sabar dan lembut selain itu ia juga menunjukkan dalil2 kewajiban jilbab padaku.

"Allah sayang sama wanita, makanya Allah menyuruh kita berjilbab untuk melindungi kita dari orang2 yang ga baek. Lagian, lo masih bisa kok tampil modis pake jilbab. Tapi inget,lo pake jilbab buat Allah bukan buat manusia. Klo masalah lo masih blom siap karna perilaku, jilbab itu bakalan jadi rem buat lo. Percaya deh, sil. Insya Allah, perilaku lo bakalan jadi lebih terkontrol kalo pake jilbab. Dan kalo ada niat untuk ngelakuin suatu kebaikan, jangan ditunda-tunda karna setan bakalan ngalangin lo"

Kata-katanya ini makin membulatkan tekadku untuk mengenakan hijab. Dan aku akhirnya memutuskan untuk menjalankan perintah Allah untuk melindungi diriku dengan berhijab. Doaku adalah semoga aku dapat menjaga hijab ku dengan istiqomah dan perilakuku dapat menjadi lebih baik dengan aku memakai hijab ini.

Sabtu, 11 Juni 2011


Being a good mosleemah is my dream.

Hakikat Kesabaran

Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar
[Q.S Al-Baqarah:153]

Sabar berasal dari bahasa Arab sha-ba-ra yang merupakan bentuk fi'il mardh (past tense). Artinya adalah tabah hati dan berani. Dalam kamus al Munjid, sabar adalah menanggung atau menahan sesuatu.
Sabar meliputi dua dimensi yakni dimensi fisik dan psikologis. Dimensi fisik yaitu anggota tubuh,yang berupa anggota badan. Sedangkan dimensi psikologis yang dimaksud disini adalah hati dan akal yang meliputi ranah emosi dan perasaan. Dimensi psikologis yang paling berperan dalam kesabaran karena hati dan akal mengendalikan dimensi fisik yang berupa anggota badan. Hati yang sabar akan melahirkan tindakan-tindakan yang beradab dan tidak akan menjatuhkan derajat kita sebagai manusia di kala tertimpa cobaan. Sehingga kita akan bertindak sesuai aturan dan prinsip kemaslahatan.
Manusia diberikan akal dan nafsu. Akal diberikan oleh Allah sebagai senjata bagi manusia untuk mengalahkan hawa nafsu. Manusia yang dikalahkan oleh hawa nafsu maka tidak ada beda dengan hewan yang tidak memiliki akal untuk berpikir. Sabar adalah resultan dari akal dan fitrah kalbu untuk mengalahkan hawa nafsu yang merusak. Sabar dapat juga diartikan sebagai ketahanan hati dalam menghadapi cobaan dan penggerak manusia untuk meraih keridhaan Allah.
Meskipun sabar adalah fitrah yang terdapat dalam kalbu setiap manusia. Namun tidak semua orang mampu mengelola kesabaran dalam diri mereka. Setiap manusia dapat mencapai level kesabaran yang berbeda. Ini tergantung dari motivasi yang terdapat dalam diri mereka. Seseorang yang terbiasa melatih dan memotivasi kesabaran, maka level kesabarannya tentu akan meningkat sesuai dengan usahanya itu. Orang yang memiliki kesabaran yang tinggi belum tentu seseorang yang terlihat memiliki banyak masalah dan kesusahan. Orang yang telah meraih kesabaran yang tinggi justru adalah orang yang tidak menampakkan masalahnya meskipun ia sedang tertimpa masalah. Orang ini akan tetap tenang dan berfikir jernih dalam masalahnya.
Lalu darimanakah motivasi kesabaran itu? motivasi itu berada dari dalam dan luar diri manusia. Akhlak dan tauhid adalah contoh motivasi dari dalam diri, sedangkan yang berasal dari luar adalah ilmu. Kedudukan ilmu sangatlah penting dalam mengelola kesabaran. Ilmu akan membantu untuk melahirkan keluhuran akhlaq dan ketauhidan yang utuh. Jika semua telah mencukupi maka ketiganya ini akan tersinergi untuk melahirkan karakter kesabaran yang mengandung kekuatan luar biasa.
Ilmu memotivasi manusia untuk sabar mengkaji makna dari setiap peristiwa, tauhid mendorong manusia untuk tetap kokoh menyandarkan diri pada Allah. Bahwa Allahlah satu-satunya Tuhan bagi dirinya. Sementara akhlaq akan mengikat ketiganya dalam perbuatan-perbuatan yang maslahat dan diridhai Allah. Sehingga ketiga hal ini akan menghasilkan karakter hebat pada diri manusia dan ketenangan hati. Maka bersabarlah, niscaya kebahagiaan di dunia dan akhirat akan engkau peroleh.