As for me, all I know is that I know nothing, for when I don't know what justice is, I'll hardly know whether it is a kind of virtue or not, or whether a person who has it is happy or unhappy. -Socrates-
Sabtu, 24 Desember 2011
La mia Mie Titi.
Aha! Bikin Mi Titi ala Makassar aja. Setelah nyobain mie titi untuk pertama kalinya di malam budaya UKSS (Unit Kesenian Sulawesi Selatan)-ITB, aku langsung jatuh cinta sama makanan ini. Sebenarnya aku ngga tau resepnya apa aja. Hehe...
Tapi aku nyoba-nyoba aja bikin. Dan voila, ternyata berhasil. Sekeluarga pada suka. Sampe-sampe dikira aku pernah kerja sambilan di restoran Makassar malah. Hehe...
Mau tau resepnya? Let's check it out!
MIE TITI
Bahan-bahan:
-300 g Mi basah.
-150 g Dada Ayam tanpa tulang, potong dadu.
-8 buah Baso Ayam/Sapi,potong 4 bagian.
-100 g jamur tiram.
-Daun bawang, iris halus.
-Seledri, buang tangkainya.
-1 ikat Sawi,iris.
-3 lembar Daun jeruk.
-2 sdm tepung maizena, larutkan dengan 1 gelas air.
-2 butir telur,kocok.
-350 ml kaldu ayam.
Bumbu:
-4 siung bawang putih.
-2 buah bawang merah.
-1 buah bawang bombay, cincang.
-1 cm Jahe.
-Garam, merica secukupnya.
1 sdm saos tiram.
Pelengkap:
-Jeruk nipis
-Bawang goreng
Mi kering:
Goreng mi, dalam minyak goreng panas. Usahakan mie terendam ke dalam minyak. Goreng hingga kering. Angkat dan tiriskan.
Kuah:
1.Haluskan bawang merah, bawang putih, dan jahe.
2.Panaskan minyak, tumis bumbu halus dan bawang bombay yang telah dicincang. Tumis hingga harum.
3. Kemudian masukkan saos tiram.
4. Masukkan daun bawang, daging ayam, baso, daun jeruk, sawi dan jamur tiram.
5. Tuangkan air kaldu dan tunggu hingga mendidih.
6. Tambahkan garam dan merica.
7. Tuangkan kocokan telur dan larutan maizena, aduk hingga mengental.
Sambal:
Rebus beberapa buah cabe. Haluskan.
Sajikan dengan perasan air jeruk nipis,bawang goreng, dan sambal. Mie Titi siap disajikan!!
NB:
-Untuk topping (isian) kuah bisa ditambah atau diganti sesuai selera. Boleh pake cumi, udang, dan laen-laen.
-Sebelum masak, baca bismillah dulu ya..
-Masaklah dengan ceria, ikhlas dan penuh cinta.
-dan yang terakhir...Selamat mencoba. :)
Selasa, 22 November 2011
Sekilas Tentang PMMC
Apa sih PMMC itu? PMMC adalah singkatan dari Permanent Magnet Moving Coil. Ini adalah instrumen atau alat yang dapat digunakan untuk mengukur arus listrik. Umumnya PMMC hanya bisa digunakan untuk mengukur arus listrik searah atau Direct Current (DC). Prinsip kerja dari alat ukur ini yaitu konversi energi. Dimana energi listrik diubah menjadi energi mekanik. Gambar skematiknya seperti di bawah ini:
Nah, ketika ada arus listrik yang melewati lilitan kawat (coil) yang berada pada medan magnet yang dihasilkan oleh magnet permanen(Permanent Magnet),maka akan timbul torsi. Sehingga lilitan kawat akan bergerak(Moving Coil). Inilah kenapa dinamakan PMMC. Lilitan kawat terhubung dengan jarum penunjuk (pointer) sehingga jarum juga ikut bergerak. Pergerakan jarum penunjuk tentu sesuai dengan torsi yang dihasilkan. Torsi yang timbul dipengaruhi oleh kerapatan fluks magnet, arus listrik yang mengalir, jumlah lilitan, dan luas permukaan coil.
τ= B.I.A.N
τ= torsi yang dihasilkan lilitan kawat (Nm)
B= kerapatan fluks magnet di udara (Wb/m2)
I = arus listrik (A)
A= luas coil (m2)
N= jumlah lilitan kawat
Tapi tunggu dulu, kita bisa liat di gambar skematik ada pegas dan balancing weight. Apa gunanya mereka? Pegas berguna untuk mengembalikan jarum penunjuk pada posisi awal ketika tidak ada arus yang melewati lilitan kawat. Sedangkan balancing weight gunanya untuk menstabilkan jarum aja. Karena adanya pegas yang terhubung dengan jarum penunjuk, maka torsi yang bekerja pada pegas dapat juga dirumuskan dengan persamaan sebagai berikut:
Ts=Ks.θ
Ts=Torsi Pegas (Nm
Ks=Konstanta Pegas (Nm/rad)
Θ= defleksi atau perubahan sudut jarum penunjuk
Namun, pada kondisi ideal, torsi pegas sama dengan torsi yang dihasilkan oleh lilitan kawat.
Ada juga nih jenis PMMC lain yang bisa untuk mengukur arus searah (Direct Current) ataupun arus bolak-balik (Alternating Current). PMMC jenis ini dinamakan PMMC jenis Moving Iron Repulsion.
Minggu, 25 September 2011
Cinta untuk Tuhanku
Aku masih ingat, saat pertama dulu aku beLajar mencintaiMu
Lembar demi lembar kitab ku pelajari
Untai demi untai kata para ustadz kuresapi
Tentang cinta para nabi
Tentang kasih para sahabat
Tentang mahabbah para sufi
Tentang kerinduan para syuhada
Lalu kutanam di jiwa dalam-dalam
Kutumbuhkan dalam mimpi-mimpi dan idealisme yang mengawang di awan
Tapi Rabbii,
Berbilang detik, menit, jam, hari, pekan, bulan dan kemudian tahun berlalu
Aku berusaha mencintaiMu dengan cinta yang paling utama, tapi…
Aku masih juga tak menemukan cinta tertinggi untukMu
Allahu Rahiim, Ilaahi Rabii
Perkenankanlah aku mencintaiMu,
Semampuku
Allahu Rahmaan, Ilaahi Rabii
Perkenankanlah aku mencintaiMu
Sebisaku
Dengan segala kelemahanku
Ilaahi,
Aku tak sanggup mencintaiMu
Dengan kesabaran menanggung derita
Umpama Nabi Ayyub, Musa, Isa hingga Al musthafa
Karena itu izinkan aku mencintaiMu
Melalui keluh kesah pengaduanku padaMu
Atas derita batin dan jasadku
Atas sakit dan ketakutanku
Rabii,
Aku tak sanggup mencintaiMu seperti Abu Bakar, yang menyedekahkan seluruh hartanya Atau layaknya Utsman yang menyerahkan 1000 ekor kuda untuk syiarkan dienMu. Izinkan aku mencintaiMu, melalui seratus-dua ratus perak yang terulur pada tangan-tangan kecil di perempatan jalan, pada wanita-wanita tua yang menadahkan tangan di pojok-pojok jembatan. Pada makanan-makanan sederhana yang terkirim ke handai taulan
Ilaahi, aku tak sanggup mencintaiMu dengan khusyuknya shalat salah seorang shabat NabiMu hingga tiada terasa anak panah musuh terhujam di kakinya. Karena itu Ya Allah, perkenankanlah aku tertatih menggapai cintaMu dalam shalat yang coba kudirikan terbata-bata meski ingatan kadang melayang ke berbagai permasalahan dunia
Ya rabbii, aku tak dapat beribadah ala para sufi dan rahib, yang membaktikan seluruh malamnya untuk bercinta denganMu. Maka izinkanlah aku untuk mencintaimu dalam satu-dua rekaat lailku. Dalam satu sua sunnah nafilahku. Dalam desah nafas kepasrahan tidurku
Yaa, Maha Rahmaan,
Aku tak sanggup mencintaiMu bagai para al hafidz dan hafidzah, yang menuntaskan kalamMu dalam satu putaran malam. Perkenankanlah aku mencintaiMu, melalui selembar dua lembar tilawah harianku. Lewat lantunan seayat dua ayat hafalanku
Yaa, Rahiim
Aku tak sanggup mencintaiMu semisal Sumayyah, yang mempersembahkan jiwa demi tegaknya DienMu
Seandainya para syuhada, yang menjual dirinya dalam jihadnya bagiMu. Maka perkenankanlah aku mencintaiMu dengan mempersembahkan sedikit bakti dan pengorbananku untuk dakwahMu. Maka izinkanlah aku mencintaiMu dengan sedikit pengajaran bagi tumbuhnya generasi baru
Allahu Kariim, aku tak sanggup mencintaiMu di atas segalanya, bagai Ibrahim yang rela tinggalkan putra dan zaujahnya,, Maka izinkanlah aku mencintaiMu di dalam segalanya. Izinkanlah aku mencintaiMu dengan mencintai kelaurgaku, dengan mencintai sahabat-sahabatku, dengan mencintai manusia dan alam semesta
Allaahu Rahmaanurrahiim, Ilaahi Rabbii
Perkenankanlah aku mencintaiMu semampuku
Agar cinta itu mengalun dalam jiwa
Agar cinta ini mengalir di sepanjang nadiku
Minggu, 12 Juni 2011
Kini kuputuskan untuk berhijab
"Ntar aja ah, kalo gw uda nikah, kan sekarang masih pengen modis dan seneng-seneng dulu" batinku dalam hati. Aku tergolong sering mengikuti kajian-kajian yang diadakan di masjid-masjid atau lembaga-lembaga agama. Dan juga aku termasuk orang yang senang membaca buku. Tak terkecuali buku-buku agama. Awalnya aku menganggap berhijab adalah suatu budaya bangsa Arab yang tidak wajib untuk dilaksanakan. Berjilbab hanyalah proses akulturasi yang dianut oleh pihak-pihak yang mengikuti kelompok atau aliran agama tertentu. Lagipula, sering sekali aku melihat para wanita yang sudah berhijab namun tetap saja seenaknya melanggar norma-norma agama di depan umum. Pikirku daripada aku berhijab dan malah mempermalukan agamaku seperti mereka lebih baik aku memperbaiki diriku saja dulu.
Namun, seiring aku belajar dari berbagai referensi, aku mengetahui bahwa berhijab bukanlah suatu budaya, Itu adalah perintah dan syariah Allah SWT. Perintah ini tertera di surah.
| Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (Q.S An-Nur 31) .Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S Al Ahzab 59) |
Perang pemikiran terjadi dalam diriku sendiri, aku bingung. Di satu sisi aku belum merasa siap memakai hijab dan di sisi lain, sebagai muslim aku harus mematuhi perintah Allah baik suka tidak suka, siap maupun tidak.
Pernah pada suatu pertemuan unit keagamaan islam yang kuikuti, GAMAIS-ITB (Keluarga Mahasiswa Islam-ITB), aku disarankan temanku untuk memakai hijab dengan alasan di kegiatan kali ini,aku akan terlalu mencolok jika tak memakai hijab. Entah mengapa aku menurutinya. Padahal pada pertemuan yang sebelumnya, aku pede-pede saja tanpa hijab walaupun hanya aku saja yang tidak memakai hijab di antara mereka. Aku berangkat ke pertemuan itu dan benar saja aku disambut oleh senior-senior di sana dengan ramah sekali. Mereka saling menyelamatiku, "Selamat ya sudah berhijab." Aku yang merasa tidak enak dengan mereka tak menyahut apapun. Aku tidak enak mengatakan bahwa aku mengenakan hijab hanya pada pertemuan unit ini saja. Setelah istirahat makan siang,tiba2 mereka menghampiriku dan memberikan sebuah kado kecil untukku. Aku terkejut dan hanya bisa mengatakan terima kasih. Setelah pertemuan usai, aku membuka kado itu dan ternyata isinya, Hijab. Aku galau. Bingung, bagaimana jika nanti di kampus mereka taubahwa aku belum berhijab, aku akan merasa malu. Aku menelepon ayahku untuk meminta pendapatnya, dan ia menyarankan aku untuk mengenakan jilbab seterusnya. Aku menolak dengan berbagai alasan. Dan ayahku hanya berkata, "Insya Allah,kalo kamu pake jilbab kamu akan lebih anggun dan dihormati". Malam harinya setelah sholat isya,aku berdoa,
Ya Allah, bukakanlah hatiku untuk berhijab dan menjalankan syariahMu pada waktunya,
Esoknya aku berangkat ke kampus tidak berhijab. Aku berusaha menghindari kajian-kajian dan pertemuan unit itu juga teman-teman muslimah di unit itu. Aku malu pada mereka. Hingga beberapa minggu kemudian aku aktif lagi di unit itu. Tetapi aku masih belum juga mengenakan hijab. Hingga pada akhirnya, 2 bulan yang lalu aku mengalami mimpi yang sangat aneh dan terjadi selama 4 hari berturut2.
HARI 1 : Aku bermimpi sedang berada di Masjid Salman di kampus dan baru saja melaksanakan sholat dhuhur. Setelah berdzikir aku melipat mukenah yang kupakai dan duduk sejenak. Mataku menangkap beberapa ukhti yang duduk melingkar, berjilbab panjang berwarna merah, hitam dan hijau (warna itu saja yang kuingat). Dalam hati aku bertanya," Kapan ya aku bisa memakai hijab seperti mereka?". Lalu, aku juga melihat sesosok pria berbaju putih dan sarung kotak2 abu yang sedang takbiratul ihram di dekat mimbar. Ketika aku memasukkan mukenaku ke dalam tas aku melihat jilbab kuning yang ku punya terlipat rapi di dalamnya.
HARI 2: Aku bermimpi hal yang sama. Aku sedang melipat mukena dan melihat para ukhti itu juga dan bertanya dalam hatiku kapan aku berhijab. Namun bedanya pria berbaju putih yang takbiratul ihram itu tidak ada dan ternyata dia berpindah ke belakangku. Mukanya ramah, kulitnya putih, rambutnya sebagian besar sudah beruban, dan ia memelihara jenggot di dagunya. Ia tertawa kecil dan membuatku terkejut.
Ia bertanya, "kenapa mbak? pengen berhijab?"
Dengan setengah terkejut,aku bertanya balik, "Lho, bapak siapa? "
Pria itu tak menjawab pertanyaanku dan bertanya lagi, "Kenapa ga dicoba saja?" sambil terus tersenyum.
Seperti biasa aku lontarkan jawaban andalanku, "Belum siap pak, saya masih belum bener" . Lalu aku memasukkan mukenaku ke dalam tas dan kembali melihat jilbab kuning itu lagi. Kemudian, aku pergi meninggalkannya. Namun dia masih mengatakan sesuatu padaku ketika aku beranjak pergi, "Saya rasa tidak ada yang belum siap mbak. Semua sudah siap. Tinggal si mbak saja."
HARI 3: Semuanya sama dengan hari2 sebelumnya, dan bapak itu juga ada di belakangku mengejutkan aku lagi.
"Gimana mbak? uda siap?" tanyanya lagi. Masih dengan tawa kecil nya itu.
"Bapak kok muncul di mimpi saya terus sih?" anehnya aku sadar bahwa aku sedang bermimpi.
"Kalo ga siap terus, nanti keburu ga sempet loh mbak." kali ini tawanya hilang. Dan mukanya serius.
Aku yang makin ketakutan, langsung saja pergi tanpa mengucapkan kata apapun lagi. Dan mimpi itu berakhir lagi.
HARI 4: Aku bermimpi keluar dari masjid Salman dan mendapati aku tengah berlari menuju ke suatu tempat. Akhirnya aku sampai di sebuah rumah berpagar bambu dan memiliki taman kecil yang dipenuhi pepohonan. Seperti ada yang berbisik padaku, bahwa rumah itu milik ayahku. Aku melangkah menuju teras rumah itu, berniat untuk masuk. Tanpa sengaja aku melihat diriku sendiri di kaca jendela teras rumah itu. Dan aku terkejut, aku melihat diriku sudah menggunakan jilbab berwarna kuning. Lalu aku terbangun.
Mimpi aneh itu mempengaruhi pikiran dan konsentrasi ku berhari2 setelahnya. Aku menangis dan bingung. Itu petunjuk ataukah bunga tidur belaka. Aku menceritakan hal ini pada seorang temanku. Namun tak ada komentar, mungkin temanku itu takut melukaiku karena memang aku sangat sensitif jika ada yang menyinggung soal hijab apalagi menyuruhku berhijab.
Sebulan setelah mimpi itu, ketika aku sedang berada di kos temanku, Frysta Aku mendapatkan order untuk mengajar privat di masjid Salman. Namun, aku disyaratkan utk memakai jilbab. Akhirnya dengan meminjam jilbab Frysta aku mengajar di sana. Usai mengajar, aku kembali ke kos Frysta karena aku telah berjanji untuk menginap di sana pada malam itu. Dalam perjalanan ke kos Frysta, aku menjadi teringat akan mimpi2 yang kualami itu. Aku berpikir, benar juga apa kata bapak itu. Jika aku menunda-nunda untuk berhijab aku takut tidak akan sempat. Karena tak ada yang tau sampai kapankah aku hidup di dunia ini.
Aku menjadi ingin berhijab, namun masih saja ada keraguan yang tak dapat kuhilangkan. Tak bisa tampil modis, trendy dan lain-lain. Sesampainya di kos Frysta, aku mengutarakan niatku kepada Frysta. Frysta senang bukan main dan dia mendukungku untuk melaksanakan niatku itu. Aku menceritakan mimpi itu juga ketakutan dan kekhawatiranku jika aku memakai jilbab, namun dia menjelaskan padaku dengan sabar dan lembut selain itu ia juga menunjukkan dalil2 kewajiban jilbab padaku.
"Allah sayang sama wanita, makanya Allah menyuruh kita berjilbab untuk melindungi kita dari orang2 yang ga baek. Lagian, lo masih bisa kok tampil modis pake jilbab. Tapi inget,lo pake jilbab buat Allah bukan buat manusia. Klo masalah lo masih blom siap karna perilaku, jilbab itu bakalan jadi rem buat lo. Percaya deh, sil. Insya Allah, perilaku lo bakalan jadi lebih terkontrol kalo pake jilbab. Dan kalo ada niat untuk ngelakuin suatu kebaikan, jangan ditunda-tunda karna setan bakalan ngalangin lo"
Kata-katanya ini makin membulatkan tekadku untuk mengenakan hijab. Dan aku akhirnya memutuskan untuk menjalankan perintah Allah untuk melindungi diriku dengan berhijab. Doaku adalah semoga aku dapat menjaga hijab ku dengan istiqomah dan perilakuku dapat menjadi lebih baik dengan aku memakai hijab ini.
Sabtu, 11 Juni 2011
Hakikat Kesabaran
Sabar meliputi dua dimensi yakni dimensi fisik dan psikologis. Dimensi fisik yaitu anggota tubuh,yang berupa anggota badan. Sedangkan dimensi psikologis yang dimaksud disini adalah hati dan akal yang meliputi ranah emosi dan perasaan. Dimensi psikologis yang paling berperan dalam kesabaran karena hati dan akal mengendalikan dimensi fisik yang berupa anggota badan. Hati yang sabar akan melahirkan tindakan-tindakan yang beradab dan tidak akan menjatuhkan derajat kita sebagai manusia di kala tertimpa cobaan. Sehingga kita akan bertindak sesuai aturan dan prinsip kemaslahatan.
Manusia diberikan akal dan nafsu. Akal diberikan oleh Allah sebagai senjata bagi manusia untuk mengalahkan hawa nafsu. Manusia yang dikalahkan oleh hawa nafsu maka tidak ada beda dengan hewan yang tidak memiliki akal untuk berpikir. Sabar adalah resultan dari akal dan fitrah kalbu untuk mengalahkan hawa nafsu yang merusak. Sabar dapat juga diartikan sebagai ketahanan hati dalam menghadapi cobaan dan penggerak manusia untuk meraih keridhaan Allah.
Meskipun sabar adalah fitrah yang terdapat dalam kalbu setiap manusia. Namun tidak semua orang mampu mengelola kesabaran dalam diri mereka. Setiap manusia dapat mencapai level kesabaran yang berbeda. Ini tergantung dari motivasi yang terdapat dalam diri mereka. Seseorang yang terbiasa melatih dan memotivasi kesabaran, maka level kesabarannya tentu akan meningkat sesuai dengan usahanya itu. Orang yang memiliki kesabaran yang tinggi belum tentu seseorang yang terlihat memiliki banyak masalah dan kesusahan. Orang yang telah meraih kesabaran yang tinggi justru adalah orang yang tidak menampakkan masalahnya meskipun ia sedang tertimpa masalah. Orang ini akan tetap tenang dan berfikir jernih dalam masalahnya.
Lalu darimanakah motivasi kesabaran itu? motivasi itu berada dari dalam dan luar diri manusia. Akhlak dan tauhid adalah contoh motivasi dari dalam diri, sedangkan yang berasal dari luar adalah ilmu. Kedudukan ilmu sangatlah penting dalam mengelola kesabaran. Ilmu akan membantu untuk melahirkan keluhuran akhlaq dan ketauhidan yang utuh. Jika semua telah mencukupi maka ketiganya ini akan tersinergi untuk melahirkan karakter kesabaran yang mengandung kekuatan luar biasa.
Ilmu memotivasi manusia untuk sabar mengkaji makna dari setiap peristiwa, tauhid mendorong manusia untuk tetap kokoh menyandarkan diri pada Allah. Bahwa Allahlah satu-satunya Tuhan bagi dirinya. Sementara akhlaq akan mengikat ketiganya dalam perbuatan-perbuatan yang maslahat dan diridhai Allah. Sehingga ketiga hal ini akan menghasilkan karakter hebat pada diri manusia dan ketenangan hati. Maka bersabarlah, niscaya kebahagiaan di dunia dan akhirat akan engkau peroleh.

